Suara TV di Ruang Tengah
Suara TV menggedor pagi. Seperti alarm yang tak mengenal belas kasih. Seperti tangan kecil Mama yang dulu mencubit lengan kalau aku enggan bangun.
Aku membuka mata separuh. Masih ingin tidur. Masih ingin menyambung mimpi. Sebab, bukankah hidup ini sebagian besarnya juga tentang menyambung mimpi? Mimpi yang entah kapan bisa diwujudkan. Mimpi yang kadang, sialnya, malah menjelma jadi luka. Ah, manusia memang seringkali lupa bahwa kebahagiaan bisa terasa begitu tabu.
Tapi pagi ini, mimpi tak bisa disambung. Suara TV itu seperti tembakan di medan perang. Memaksa aku menyerah. Aku mengangkat tangan, pasrah. Lalu berjalan ke kamar mandi, membasuh muka, menyikat gigi, dan mengikuti semua perintah pagi ini seperti tahanan yang baru saja dijatuhi hukuman seumur hidup.
Ketika keluar kamar, aku mendapati ruang tengah kosong. Hanya TV yang terus mengoceh tanpa penonton. Seperti sedang menonton dirinya sendiri. Ruangan ini terasa sepi, tapi suara TV berusaha menegaskan bahwa keheningan hanyalah ilusi. Keheningan itu hanya ada ketika kau merasa tak ada.
Aku mengabaikannya. Melangkah ke dapur, membuka kulkas. Ada susu kaleng. Kutuang ke gelas, kuaduk pelan. Mungkin segelas susu bisa menyelamatkan pagi yang sial ini.
Di teras, matahari menyapa dengan hangat. Aku menyeruput susu, menatap tebing yang masih rimbun. Semoga tetap seperti ini. Semoga tak ada orang gila yang menebang pohon-pohon itu. Semoga tak ada yang menggali tanahnya untuk alasan yang tak perlu.
Saat hendak masuk kembali, aku melihat Bapak duduk di ruang tengah. Seorang diri. Menghisap rokok, ditemani secangkir kopi. Aku menarik kursi, duduk di sampingnya. Meletakkan gelas di meja. Hening sejenak.
"Siapa yang nyalain TV, Pak?" tanyaku.
"Mamamu."
"Iii… besarnya volumenya."
Bapak terdiam. Menghisap rokok. Mengembuskan asap. Baru kemudian menjawab, "Itu karena kamu suka bangun telat. Hahaha."
Aku ikut tertawa. Tapi ada sesuatu di balik tawa itu. Sesuatu yang tak terucap. Aku bisa merasakannya.
"Cuma karena itu?" tanyaku, meski nada suaraku lebih seperti bercanda.
Bapak menghela napas. Lalu berkata, "Bagaimana cara membunuh kesunyian di rumah?"
"Ya… dengan melakukan aktivitas."
"Hmm… itu caramu. Tapi tidak dengan Mamamu."
Bapak mengisap rokok lagi. Lalu bercerita.
Rumah ini, katanya, pernah riuh. Dulu, saat aku dan saudara-saudaraku masih kecil, setiap pagi Mama selalu membangunkan kami. Membuka jendela kamar, membiarkan matahari masuk. Kami berebut kamar mandi. Bertengkar. Lalu Mama atau Bapak melerai, kadang dengan marah.
Beberapa minggu lalu, kakakku pulang membawa anak pertamanya. Cucu pertama mereka. Ruang tengah itu kembali ramai. Tangis bayi. Tawa kakakku. Suara TV yang menyala. Semua bercampur. Seperti dulu, saat kami masih kecil.
Lalu aqiqah selesai. Kakakku pulang. Rumah ini kembali sunyi. Dan Mama… hanya bisa menonton video cucunya di ponsel. Menaikkan volume TV. Sesekali masuk ke kamar kakakku hanya untuk berbaring di sana. Mencari sisa-sisa keberadaan yang masih tertinggal.
"Mamamu rindu," kata Bapak. "Bapak juga. Waktu acara kemarin, kita semua berkumpul. Mamamu senang sekali."
Aku terdiam. Memikirkan kalimat Bapak. Memikirkan volume TV yang tiba-tiba tak terdengar berisik lagi.
"Nanti, kalau kamu sudah menikah dan punya anak, kamu akan mengerti," lanjutnya. "Kesunyian ini, yang kami rasakan sekarang, suatu hari nanti akan jadi milikmu juga. Rumah yang dulu penuh tawa, perlahan menjadi senyap. Anak-anak pergi. Pulang hanya sesekali. Betapa sunyinya rumah ini."
Bapak menghembuskan asap rokok. Matanya menerawang. Aku ikut terdiam.
"Untungnya, di zaman sekarang, kenangan bisa disimpan dalam layar kecil yang selalu ada dalam genggaman," katanya lagi. "Di dunia orang tua, ada dua hal yang bisa membuat bahagia: harapan dan kenangan. Selain harapan, yang membuat kami kuat adalah kenangan. Volume TV yang besar itu adalah bukti bahwa Mamamu bisa bertahan karena kenangan. Dan di sela-sela kenangan itu, ada harapan yang terselip. Harapan untuk berkumpul lagi. Hanya itu."
Aku menelan ludah. Mengingat-ingat kalimat Bapak. "Harapan dan kenangan adalah memori bahagia. Selain harapan, yang bisa membuat seseorang kuat adalah kenangan."
Aku tertawa kecil. "Wah, ternyata Bapak bisa juga ngomong keren begitu."
Bapak terkekeh. Belum sempat menghembuskan asap rokoknya lagi, terdengar suara dari dalam rumah.
"Ponjaaaa! Pergi cuci piring dulu!" teriak Mama.
Aku mendengus. "Iyaaa, Mamaaa."
Bapak tertawa. "Berdosa kalau nggak nurut. Berdosa!" katanya, bercanda.
Aku bangkit dari kursi. Menuju dapur. Tapi entah kenapa, suara TV yang nyaring itu kini terasa lebih hangat. Lebih akrab. Dan pagi ini, tiba-tiba, tak terasa sial lagi.
.jpg)
Posting Komentar untuk "Suara TV di Ruang Tengah "
Posting Komentar