Sepasang Mata Yang Kehilangan Harapan

“Kita tak perlu memasuki lorong itu,” katamu dengan suara lembut di taman rumah sakit.

Aku hanya tersenyum, membiarkan dirimu terus berbicara saat senja perlahan membenahi langit yang semakin meredup. Daun-daun berguguran, berguling tertiup angin. Beberapa helai jatuh di pangkuanmu, dan lainnya mengikuti nasib yang sama.

Di taman ini, orang-orang tampak terperangkap dalam kesunyian yang mendalam. Pasangan mata yang kehilangan harapan. Sayu, suram, dan seakan-akan dunia ini hanya sebuah kenangan yang pudar. Waktu seperti terhenti, dan orang-orang ditelan dalam kepasrahan. Mereka hanya diam, menatap kosong, seolah itu satu-satunya pilihan yang tersisa.

Di dekat kantin, beberapa orang terlihat lesu, menunggu sesuatu yang tak pasti. Mata mereka kabur, diliputi kecemasan dan kelelahan. Ada yang belum tidur semalam, menjaga orang tercinta yang terbaring lemah. Aku membayangkan bahwa mungkin pasrah itu menjadi jalan terakhir mereka, atau barangkali, itu adalah doa yang terpendam, harapan yang mereka sembunyikan di balik wajah yang murung. Entahlah. Namun di pundak mereka, ada doa yang paling dalam, yang hanya Tuhan yang bisa menjawabnya.

Sepasang mata dari penjaga kantin berpendar dengan harapan, mencoba memberikan kata-kata yang menenangkan kepada setiap pembeli yang lewat. Ia berbicara dengan bijak, seolah-olah setiap kata yang keluar dari bibirnya adalah pelajaran hidup.

Aku terus mendorong kursi roda, menuntunmu melewati setiap langkah yang seakan tak berujung.

“Katakan padaku, mengapa kamu tak mau masuk ke lorong itu?” tanyaku, mencoba memahami.

“Bukan tidak mau, tapi aku belum siap,” jawabmu perlahan, matamu menatap jauh, kosong. “Di sini, suasananya terasa lebih tenang. Coba lihat orang di jendela itu.”

Seorang pria tua duduk di depan jendela, di sisi kanannya seorang yang mungkin anak atau cucunya. Mereka menatap ke luar, matanya kosong namun seakan mencari sesuatu yang tak terjangkau. Dari balik jendela, mereka tampak seperti kehilangan dunia, menggapai-gapai sesuatu yang tak pernah bisa diraih.

“Lihat mereka. Apa yang mereka pikirkan?” kamu bertanya dengan suara yang hampir terbisik.

“Entahlah. Apa menurutmu?” jawabku, mengamati mereka dengan perasaan yang penuh tanya.

“Mereka sama sepertiku,” katamu, suaramu berat, penuh dengan kesedihan yang tersembunyi. “Mulai kehilangan harapan akan hidup. Di mata mereka, malaikat maut mungkin sudah berdiri di depan, menunggu bunyi tanda dari monitor yang menandakan akhir. Lalu malaikat itu akan menarikku, mengajakku naik ke perahu kecil, melintasi lautan gelap yang tak bertepi.”

“Apakah hidup bagi orang sakit sekelam itu?” tanyaku, suara aku tercekat.

“Aku rasa iya,” jawabmu, sesaat setelahnya diam dalam hening yang pekat.

Kamu terdiam, memandang matahari yang perlahan tenggelam. Cahaya jingga yang meresap ke wajahmu membangkitkan kenangan-kenangan lama. Sebuah senyum lembut menyungging di bibirmu, seolah masa lalu datang menghampiri. Aku bisa merasakan bahwa kenangan itu memberimu sedikit kebahagiaan, memberi rasa nyaman dalam keheningan ini.

“Aku suka senja ini,” katamu, matamu menerawang ke cakrawala. “Ponja, apakah aku akan tenggelam bersamanya?”

Aku menggenggam tanganmu, lembut, penuh harapan. “Sena, jangan berpikir seperti itu. Hidup ini bukanlah candaan. Tanpamu, dunia ini akan begitu kosong. Jangan tinggalkan aku sendiri di sini, di dunia yang begitu fana ini. Jika kamu pergi, aku akan terus merindukanmu setiap kali senja tiba. Jadi, Sena… tetaplah bersamaku.”

Kamu memandang wajahku dengan penuh kasih, tanganmu lembut menyentuh pipiku. "Hidup adalah perpisahan yang harus diterima,” ucapmu, namun matamu berbicara lain. Di sana ada keraguan yang tak bisa disembunyikan.

“Ya, aku akan belajar menerima kehilangan dari sekarang,” bisikmu pelan.

Aku menarik hidungmu dengan gemas. “Apa yang kamu katakan itu berlebihan, Sena. Aku masih ada di sini, dan aku akan selalu ada untukmu.” Wajahmu berubah cemberut, dan aku tertawa kecil, menyukai caramu mengubah ekspresi menjadi malu. Sejenak, keheningan itu menghilang, digantikan dengan kebahagiaan yang mengalir, meski hanya sebentar.

Cahaya jingga mulai pudar, waktu untuk kembali ke dalam ruangan semakin dekat.

“Aku tidak ingin memasuki lorong itu,” pintamu sekali lagi, suaramu lebih lemah. “Lorong itu gelap, seperti jalan menuju kematian. Aku takut sekali. Bisa tolong cari jalan lain?”

Aku mengangguk dan menyanggupimu. Kita berjalan bersama, menjauh dari lorong yang gelap itu, meninggalkan orang-orang yang tampaknya pasrah, seolah pasrah adalah cara mereka merayu Tuhan dengan harapan-harapan yang tak terucap.

Di lorong lain, orang-orang terkulai lemas di depan pintu. Mereka sedang bertemu mimpi—entah mimpi indah atau mencekam. Di ruang lain, seorang wanita berteriak histeris, suara tangisannya menusuk hati. Salah satu keluarganya telah pergi, melangkah ke alam yang tak terjangkau lagi.

“Apakah aku yang berikutnya, Ponja?” suaramu bergetar, penuh ketakutan. “Di sini, malaikat maut sudah berdiri di depan pintu, mengintip dari balik kaca. Aku takut, Ponja…”

“Tenang saja, Sena,” jawabku lembut, menggenggam tanganmu erat. “Yang paling menakutkan bukanlah malaikat maut, tapi pikiran kita sendiri. Jangan biarkan pikiran itu menguasai.”

Hening. Kepalamu tertunduk, wajahmu tertutup bayang-bayang ketakutan. Teriakan itu membuat beberapa orang yang tertidur terbangun, wajah mereka penuh dengan kepedihan.

“Sena, aku paham sekarang,” katamu, suara sedikit serak. “Mereka yang kuat adalah mereka yang bisa menerima apa pun yang datang. Kehilangan, misalnya. Lihat laki-laki itu. Lihat caranya menenangkan wanita yang histeris. Meski matanya penuh dengan air mata, dia tetap tegar, tetap bertahan.”

Kamu menggenggam tangan kananku, kuat dan penuh harapan. “Tetaplah di sampingku, Ponja.”

“Selalu, Sena,” jawabku dengan keyakinan yang dalam.

Saat kita melewati ruangan itu, aku menggenggam tanganmu erat. Wajahmu menunduk, berusaha menyembunyikan rasa takut yang menguasai. Tak jauh di depan, kita memasuki ruangan tempatmu berbaring. Di sana, ada wajah-wajah yang tersenyum hangat, keluarga kita yang selalu ada, selalu sabar, memberikan arti dalam setiap langkah kita


RS. Fagahusada,
18 Agustus 2022

Posting Komentar untuk "Sepasang Mata Yang Kehilangan Harapan"