Sebelum Lenganku

Catatan: semisal puisi ini merekam cemburu yang paling sunyi: ketika benda-benda sehari-hari menjadi lebih dulu menyentuh tubuh orang yang dicinta. Rasa kalah tidak hadir sebagai amarah, melainkan sebagai kesadaran lirih bahwa keintiman bisa terjadi tanpa kehadiran.

Sebelum Lenganku

kekasih,
aku cemburu
kepada gelas teh
yang kau genggam lebih lama dariku

uapnya kau hirup pelan
sementara namaku
kau simpan di tenggorokan

kekasih,
aku cemburu
kepada selimutmu
sebab dialah yang memelukmu
saat aku diguyur bayangmu

bahkan bantalmu
lebih tahu bentuk kepalamu
daripada lenganku

dalam tidurmu
berkali-kali kuselipkan rindu
di bawah pipimu

apakah telah kau
pungut dalam mimpimu?

dan jangan biarkan aku kalah
oleh apapun itu
yang lebih dulu menyentuhmu
kekasihku

Posting Komentar untuk "Sebelum Lenganku"