Serangan 4G di Kampung
Saya pulang ke kampung. Setidaknya, niat awalnya begitu. Saya membayangkan suasana hangat, penuh nostalgia, dengan wangi tanah setelah hujan dan suara anak-anak bermain petak umpet. Tapi begitu turun dari oto (mobil), saya bingung. Ini kampung saya atau lokasi syuting sinetron urban?
Warung kopi di dekat jembatan sudah berubah total. Dulu, tempat itu sederhana tapi nyaman, tempat bapak-bapak ngopi sambil debat politik ala komentator TV. Sekarang? Sudah bermetamorfosis jadi kedai kumuh dengan nama yang lebih cocok untuk mantra sihir. "Warkop Gaib 99"—entah maksudnya karena gaib dari pengawasan Satpol PP atau memang pemiliknya spesialis menghilang saat ditagih utang.
Lalu, anak-anak? Tidak ada lagi suara mereka main benteng, galasin, atau sekadar lari-lari sambil teriak, "SIAPA TAKUT?!" yang biasanya bikin kepala ibu-ibu pening. Kini, mereka duduk melingkar, serius menatap layar HP, jempol mereka menari lebih lincah daripada pemain gambus. Bukannya bertanya, "Main apa, Nak?" saya malah takut mereka justru menanyakan, "Kakak main Mobile Legends, nggak?"
Dan ibu-ibu? Saya mencari mereka di teras rumah, berharap melihat mereka mengupas bawang atau menjemur kerupuk. Ternyata, mereka sibuk update status di Facebook, berharap masuk FYP ala Meta. Tiap lima menit sekali, terdengar suara khas: "Ibu-ibu, senyuuum... satu... dua... tiga!" Cekrek! Foto arisan diunggah, tentu dengan caption ala motivator: Bersama sahabat itu indah. Hidup cuma sekali, nikmatilah!
Dulu, setiap sore, ibu-ibu berkumpul di gazebo, bukan sekadar cari kutu di kepala, tapi juga berbagi gosip segar. Topik wajib: siapa yang baru menikah, siapa yang rumah tangganya miring, siapa yang anaknya pulang pagi tapi alasan "kerja kelompok." Sekarang? Gazebo itu sunyi seperti kuburan siang hari. Gosip pun berpindah ke grup WhatsApp, lengkap dengan stiker norak dan voice note sepanjang khutbah Jumat yang intinya cuma satu: "Besok arisan di rumah Bu Anu."
Tapi untungnya, ada satu tradisi yang masih bertahan: gotong royong saat hajatan. Pemuda kampung tetap semangat mendirikan tenda, ibu-ibu sibuk di dapur, bapak-bapak sibuk menyusun kursi sambil menyelipkan debat politik level warung kopi. Setidaknya, tradisi ini belum tertelan tren "serahkan saja ke vendor" ala kota.
Adik saya juga berubah. Dulu, dia suka lari-lari di lorong, main lumpur tanpa peduli bajunya sudah seperti kain pel. Sekarang? Lebih sering mengurung diri di kamar dengan HP di tangan. "Lagi ada tugas sekolah," katanya. Entah benar, atau cuma alibi biar tidak disuruh beli kecap ke warung.
Saya pun mencoba ngobrol dengan para pemuda kampung. "Malam-malam biasanya ngapain?" tanya saya, berharap mereka masih main gitar di lapangan untuk menjaga kampung seperti zaman dulu. Mereka tertawa. "Main kartu, mancing, main game." Wajar, mereka butuh hiburan. Yang penting, mereka tetap duduk melingkar—karena meskipun teknologi makin canggih, tongkrongan tetap harga mati.
Tentu, modernitas tak sepenuhnya buruk. Teknologi membuat hidup lebih mudah, komunikasi lebih cepat, dan informasi lebih gampang diakses. Tapi saya merasa ada yang hilang.
Saya rindu pagi-pagi dibangunkan ibu dengan suara khas, bukan alarm HP yang bikin jantung copot. Saya rindu radio tua yang menemani petani di kebun, bukan playlist acak dari aplikasi streaming. Saya rindu kampung yang tetap menjadi kampung, bukan sekadar replika kota yang kehilangan jiwanya.
Saya sadar, perubahan adalah keniscayaan. Tapi harusnya, modernitas bisa berdampingan dengan adat, bukan malah menggusurnya. Kampung bukan cuma soal rumah-rumah sederhana atau hamparan kebun, tapi tentang bagaimana orang-orangnya terhubung. Bukan sekadar lewat 4G, tapi juga lewat hati.
Jadi, apakah saya masih ingin pulang ke kampung? Tentu saja. Tapi kali ini, saya harus menyesuaikan ekspektasi. Siapa tahu, saat saya kembali, nenek saya sudah jadi bintang TikTok dan ngajak saya duet buat joget viral.

Posting Komentar untuk "Serangan 4G di Kampung"
Posting Komentar