Di antara Embun dan Nafas

Catatan: semisal puisi ini bergerak pelan dari malam menuju pagi, dari berjaga menuju doa. Ia merawat cinta melalui hal-hal kecil berupa napas, tatapan, dan pelukan. Sebuah pengakuan bahwa kepastian sering kali tidak perlu diteriakkan.

Di antara Embun dan Nafas

acapkali di pertengahan malam,
aku terjaga, meresapi setiap lirih keluhmu,
menerima bebanmu menitipkan dirinya
pada hela nafasku

saat embun perlahan menguap,
kujahit sinar mentari menjadi kelambu,
membatasi siluet takut dari wajahmu,
“aku di sini, utuh dalam dekap,” bisikku

lalu tatapanmu
bening dan menetap,
tinggal di inti hatiku,
membawa pinta dari erat pelukmu,
“jangan lepas, eratkan lagi”

dan aku, dalam hening ternyaman,
melingkarkan tangan di punggungmu

pada esok yang masih misteri,
kubentangkan doa pada keningmu,
seperti darah yang setia pada nadinya,
seperti jantung yang tak pernah berhenti
merindukan detak yang melengkapinya

Posting Komentar untuk "Di antara Embun dan Nafas"