Mencintai Layla dan Sawit
Atas Nama Cinta
“Tidak semua kekerasan datang melalui senjata; sebagian datang lewat cinta dan niat baik.”
Cinta adalah kata paling aman untuk menyembunyikan niat apa
pun. Menyebut diri sedang “mencintai”, seseorang bisa masuk ke wilayah
orang lain tanpa mengetuk, mengatur tanpa diminta, dan merombak tanpa merasa
bersalah. Cinta versi ini selalu tampil sebagai moral tertinggi. Ia
tidak mau dipertanyakan, apalagi ditolak. Siapa pun yang ragu akan dicap tidak
tahu diri, tidak paham masa depan, atau yang
paling sering tidak mengerti apa yang
terbaik bagi dirinya sendiri.
Masalahnya, cinta yang merasa paling tahu hampir selalu
berakhir sebagai kekerasan yang sopan. Ia tidak datang bersama pentungan,
melainkan proposal. Tidak berteriak, tetapi mengutip data. Tidak memaksa secara
terang-terangan, hanya saja perlahan menggeser batas sampai yang dicintai tak lagi
mengenali dirinya sendiri. Atas nama kebaikan, tanah bisa diratakan, hutan
diluruskan, dan kehidupan dipaksa menyesuaikan diri dengan rencana yang disusun
jauh dari bau lumpur dan suara akar patah.
Di titik ini, kisah Layla dan Majnun menjadi cermin yang
memalukan. Majnun dicap gila justru karena cintanya tidak agresif, tidak
produktif, dan tidak menghasilkan apa-apa selain kesetiaan. Ia mencintai tanpa
proyek, tanpa target, tanpa keinginan memperbaiki Layla agar lebih berguna.
Mungkin itulah sebabnya cinta semacam ini dianggap tidak relevan: ia terlalu
jujur, terlalu pasrah, dan terlalu berbahaya bagi dunia yang hanya percaya pada
cinta yang bisa ditanam, dihitung, dan dipanen.
Ketika Cinta Berbaris Rapi
Cinta, ketika sudah dipegang negara, segera berubah menjadi
sesuatu yang disiplin. Ia tidak lagi tumbuh liar, tetapi ditanam dengan jarak
yang seragam. Ia tidak lagi bernegosiasi dengan tanah, melainkan memaksanya
patuh pada garis lurus. Di sinilah sawit menemukan metaforanya yang paling
jujur: barisan rapi seperti pasukan, tegak, homogen, dan siap menduduki ruang
apa pun yang dinyatakan “kosong”. Padahal kita tahu, dalam sejarah kekuasaan,
yang disebut kosong sering kali hanya berarti belum sepenuhnya tunduk.
Dalam kerangka ini, sawit bukan sekadar tanaman, melainkan
cara berpikir. Ia membawa logika bahwa keberagaman adalah masalah, bahwa hutan
terlalu berisik untuk disebut produktif, dan bahwa kehidupan yang tidak bisa
dihitung sebagai output ekonomi layak diganti. Papua, dengan relasi manusia,
hutan, roh, dan hewan yang saling bertaut, adalah kebalikan dari semua itu.
Maka ia harus dirapikan. Jika perlu, disederhanakan. Jika masih membandel,
dijelaskan bahwa semua ini dilakukan demi cintanya sendiri.
Ironisnya, cinta yang berbaris rapi selalu mengaku damai.
Kita baru melihat wajah aslinya ketika bencana datang berulang kali ke
wilayah-wilayah yang hutannya telah lama dikorbankan. Dalam berbagai laporan
lingkungan dan kajian hidrologi, alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit
skala besar terbukti menurunkan daya serap tanah, mempercepat limpasan air, dan
meningkatkan risiko banjir serta longsor. Banjir bandang di Sumatera bukan lagi sekadar soal hujan ekstrem,
melainkan konsekuensi dari lanskap yang dipaksa tunduk pada satu jenis tanaman,
satu logika produksi, dan satu definisi sempit tentang kemajuan.
Cinta
versi ini tetap bersikeras menyebut dirinya penyelamat. Ia berbicara tentang
kesejahteraan sambil menyingkirkan cara hidup yang tidak kompatibel dengan
tabel perencanaan. Seperti tentara yang mengaku membawa stabilitas, sawit hadir
dengan janji ketertiban, akan tetapi yang
dihasilkannya adalah lanskap sunyi, di mana yang tumbuh subur hanyalah
keseragaman. Dan pada titik itu, cinta sepenuhnya kehilangan sifatnya: ia tidak
lagi merawat, hanya menguasai.
Layla, Sawit, dan Etika Mencintai
Layla, dalam kisah itu, tidak pernah dimenangkan. Ia tidak
ditaklukkan oleh kesetiaan Majnun, tidak pula dijadikan bukti keberhasilan
cintanya. Justru di situlah martabat cinta dijaga. Majnun tidak memaksa Layla
menjadi alasan hidupnya yang produktif, apalagi menjadikannya proyek perbaikan.
Ia mencintai dengan cara yang oleh dunia dianggap sia-sia: tanpa kepemilikan,
tanpa hasil, tanpa klaim keberhasilan. Cinta semacam ini mungkin menyakitkan,
tetapi ia tidak meninggalkan kehancuran. Ia berhenti tepat sebelum berubah
menjadi kekerasan.
Sawit bekerja menggunakan etika
sebaliknya. Ia hadir sebagai bukti cinta yang harus tampak diukur, dipanen, dan dilaporkan. Negara
mencintai tanah dengan syarat tanah itu patuh, rata, dan menguntungkan. Jika
tidak, cinta itu berubah menjadi argumen: demi rakyat, demi pangan, demi masa
depan. Dalam logika
ini, hutan yang menolak dirapikan dianggap pembangkang, dan masyarakat yang
mempertahankan cara hidupnya dicurigai sebagai penghambat kemajuan, lebih tragis lagi “dibinasakan”.
Cinta tidak lagi diuji oleh kesediaan untuk menahan diri, melainkan oleh
keberanian untuk menguasai.
Mungkin di sinilah pelajaran paling tidak nyaman dari Layla
dan Majnun: bahwa mencintai tidak selalu berarti bertindak. Bahwa etika cinta
justru terletak pada kemampuan untuk tidak mengambil, tidak menanam, tidak
memaksakan kehendak. Kita kehilangan hutan bukan karena kurang data atau kurang
teknologi, tetapi karena gagal memahami batas. Majnun disebut gila karena
memilih mencintai tanpa memiliki. Sementara kita, dengan segala kewarasan
pembangunan, justru merusak karena terlalu yakin bahwa cinta harus selalu
dibuktikan dengan kuasa.
Masihkah engkau mencintai
sawit, Tuan?
Referensi
Kadir, H. (2019, Juli 24). Sawit adalah tentara. EconAnthro. https://econanthro.wordpress.com/2019/07/24/sawit-adalah-tentara/
BBC News Indonesia. (2025). Banjir, longsor, dan dampaknya di Sumatra. BBC.com/Indonesia. https://www.bbc.com/indonesia/articles/crrk14e41ddo
Ganjavi, N. (2023). Layla and Majnun. (2023). DIVA Press.

Posting Komentar untuk "Mencintai Layla dan Sawit"
Posting Komentar