Siapa La Buku Torende?
Di antara kabut pegunungan dan desir ombak tanah Buton, ada kisah yang tak ditulis dalam naskah resmi, tapi hidup dalam lisan para tetua dan bersemayam dalam batu-batu tua di kaki gunung. Ia bukan sekadar dongeng pengantar tidur atau cerita penggugah semangat—ia adalah benih dari identitas, kekuatan, dan keberanian.
Salah satu kisah itu adalah Hikayat La Buku Torende—seorang panglima sakti dari negeri Laporo yang namanya menggema dalam legenda. Dikisahkan, ia bersama istrinya menghadapi ancaman dari Keraton Buton dalam wujud seekor ular raksasa bernama La Gadhi. Kisah ini telah diwariskan turun-temurun di Lipu Malanga dan sekitarnya, dalam bentuk tutur yang menggugah dan membakar jiwa.
Maka sebelum membahas siapa sebenarnya sosok La Buku Torende dalam catatan sejarah, izinkanlah hikayat ini berbicara terlebih dahulu.
Hikayat La Buku Torende
Bismillah dengan sebut nama Tuhan
Yang Maha Tunggal,
yang menjadikan tanah dan langit, laut dan puncak,
maka tersuratlah satu hikayat yang turun dari langit petuah,
tentang seorang lelaki tiada dua, anak negeri bertulang baja,
bernama La Buku Torende,
panglima dari Suku Laporo,
yang tanahnya bertapak di Lipu Malanga,
dan hatinya bersemayam di atas warisan leluhur.
Adapun La Buku, tiada ia bertubuh
kecil,
gagah badannya, segarang kilat di langit barat,
berbadan kekar laksana panglima yang belum pernah kalah,
rambutnya panjang, hitam pekat seperti malam yang belum diberi fajar,
tatapannya tajam, namun jiwanya tunduk pada adat dan kasih sayang.
Berkata orang-orang tua,
“Jangan kau uji sabar lelaki Laporo,
karena sabarnya ialah samudera,
tapi murkanya ialah badai yang tak kenal pelabuhan.”
Adapun waktu itu, terjadilah rusuh
dari arah barat,
yakni dari Keraton Buton,
yang dengki pada ketenteraman negeri-negeri pedalaman.
Maka disuruhnyalah makhluk laknat,
seekor ular raksasa bernama La Gadhi,
panjangnya tujuh tombak lebih satu hasta,
bertaring emas, bersisik batu api,
dilahirkan dari hulu angkara,
dikirim untuk menghancurkan negeri Lipu Malanga.
Maka mengamuklah La Gadhi,
dihantamnya perkebunan, dirontoknya pohon pisang dan kelapa,
diterjangnya kandang, dihalaukannya ternak,
maka gemparlah orang kampung,
seolah-olah langit hendak runtuh ke bumi.
Namun La Buku Torende tiada mundur walau selangkah,
disingsingkannya lengan, dikenakannya ikat pinggang pusaka,
dibawanya tongkat tua dari batu kawali,
lalu turun ia dari lereng kampung bagaikan bayang raksasa.
Berseru ia dengan suara menggetar:
"Hai La Gadhi, anak malam
dan hamba angkara,
kau salah tanah, salah kampung, salah bangsa!”
Maka bertempurlah mereka,
gelap langit, tergetar tanah,
dengan kekuatan panglima dan siasat pusaka,
La Buku melilit leher La Gadhi,
namun kepala ular masih menggeliat hendak meremukkan desa.
Maka datanglah perempuan sakti dari
timur,
yakni istri La Buku Torende,
yang tiada kalah berani, tiada mundur dari api.
Dipanggulnya koncu, batu besar dari puncak,
diturunkannya dengan sabda,
dan dijepitkannya kepala La Gadhi
di antara batu gunung.
Bergemalah ratapan La Gadhi,
melengking tinggi hingga pecah awan,
dan didengarlah oleh para pembesar Buton:
"La Gadhi telah mati. Lipu Malanga bukan lagi tempat untuk
dihampiri."
Maka sejak waktu itu,
tanah Laporo tiada lagi diganggu tangan kekuasaan,
karena di sana berdiam seorang panglima sakti,
yang tubuhnya dari tanah,
namun jiwanya dari langit.
(Wallahu a’lam. Inilah hikayat yang
disurat dan disampaikan dari lisan ke lisan, disimpan oleh kabut, dijaga oleh
batu. Barang siapa meniru kesetiaan La Buku Torende, maka ia adalah anak negeri
yang sejati.)
Begitulah hikayat berbicara tentang La Buku Torende, tokoh sakti yang berdiri sebagai simbol keberanian rakyat pedalaman melawan angkara. Namun seiring waktu berjalan, para peneliti dan sejarawan mulai menggali lebih dalam: apakah kisah ini semata dongeng? Ataukah menyimpan jejak dari tokoh nyata yang jejak langkahnya terpendam dalam pergeseran zaman?
Di sinilah sejarah dan legenda mulai saling bersilang. Salah satu nama yang muncul dari balik debu sejarah adalah Khau Sing Khan, seorang panglima Mongol yang jejaknya menuntun kita ke tanah Buton.
Jejak Khau Sing Khan di Buton: Panglima Mongol yang Menjadi Pembesar di Timur Nusantara
Jika hikayat menyiratkan La Buku Torende sebagai sosok legenda, maka sejarah membawa kita pada satu nama nyata yang tak kalah menakjubkan: Khau Sing Khan, seorang panglima Mongol yang jejaknya tertinggal di Buton.
Di tengah gelombang besar sejarah Asia abad ke-13, nama Khau Sing Khan memang tak setenar para kaisar agung. Namun, di tanah Buton—khususnya di tenggara Sulawesi—ia dikenang sebagai tokoh penting yang meletakkan dasar awal peradaban lokal dan meninggalkan warisan budaya yang masih terasa hingga kini.
Khau Sing Khan merupakan panglima kavaleri Kekaisaran Tiongkok pada masa Kubilai Khan, dari Dinasti Yuan. Ia termasuk dalam tiga jenderal besar yang memimpin ekspedisi militer ke Jawa tahun 1293 M—bersama Ike Matsu dan Shi Pi—dalam rangka menghukum Raja Singhasari, Kertanegara, yang menolak tunduk pada kekaisaran.
Pasukan besar yang mereka pimpin dikenal sebagai tentara Tartar. Namun, invasi ini justru berujung bencana. Raden Wijaya, bangsawan Jawa yang kelak mendirikan Kerajaan Majapahit, memanfaatkan mereka untuk menggulingkan musuhnya, Jayakatwang, lalu berbalik menyerang dan membantai pasukan Mongol setelah tujuannya tercapai.
Dalam kekacauan dan pengkhianatan itu, Khau Sing Khan berhasil melarikan diri, berlayar ke timur, dan akhirnya mendarat di Pulau Buton, tepatnya di daerah Wabula. Di sinilah kisahnya berubah: dari panglima perang menjadi pembesar lokal yang membangun kehidupan baru.
Ia menikah dengan Wa Dawaho, seorang putri anak Parabhela dari Wabula. Pernikahan ini bukan sekadar penyatuan dua individu, tapi juga dua kebudayaan yang sangat berbeda. Hasil asimilasi ini masih terasa: masyarakat Wabula dikenal memiliki kulit yang cenderung lebih terang—sebuah ciri khas yang diyakini sebagai warisan genetik Tionghoa-Mongol.
Nama "Wabula" sendiri dipercaya berasal dari bahasa Wolio: "bula" (putih) dan awalan "wa" (perempuan)—sebuah penanda linguistik atas sejarah yang hidup dalam tubuh masyarakatnya.
Tak berhenti di situ, Khau Sing Khan membangun kekuasaan politik. Sekitar lima tahun setelah menetap, ia mendirikan kekuasaan bernama Tobhe-Tobhe, yang wilayahnya sangat luas, mencakup daerah-daerah:
Labhlawa, Wabhorobo, Burukene, Wabula, Lapandewa, Rongi Sempasempah, Kaindea, Wurugana, Busoa, Wawoangi, Lakaposuncu, Bola, Burangasi, Wapulaka, Katilombu, Lipu Malanga, Wakaokili, Watiginanda, Kambe Kambero, Masiri, Siompu, Kadatua, Laboora, hingga Kalotoa di Kepulauan Karompa.
Sejak saat itu, Khau Sing Khan dikenal dengan gelar Dungkuchangia. Di berbagai wilayah, namanya dikenang secara berbeda.
Di Lapandewa dan Batauga: Mia Mosega,
di Wabula, Wasuemba, dan Lipu Malanga: La Buku Torende.
Nama-nama lokal ini bukan sekadar sebutan, tapi wujud penghormatan atas jejak sejarah dan pengaruh budaya yang ditinggalkannya.
Tobhe-Tobhe kemudian menjadi kekuatan penting di kawasan selatan Buton, memberi pengaruh pada kerajaan-kerajaan seperti Kamaru dan Todanga. Meski tidak semua kerajaan tunduk secara politik, pengaruh Khau Sing Khan tetap terasa lewat hubungan kekerabatan dan diplomasi.
Hari ini, kisah Khau Sing Khan hidup dalam narasi rakyat, legenda hikayat, dan jejak budaya yang tersebar di berbagai wilayah Buton. Ia bukan hanya pelarian perang, tapi seorang arsitek peradaban kecil yang menanam benih kebudayaan di tanah yang baru.
Kisahnya menyatu dalam mozaik lokal, memperkaya identitas Buton dengan warna-warni warisan lintas benua.
Referensi: Ma’mun, Syarif. 2014. Demokrasi Lokal Darul Butuni. Kolaka: USN Press.
Dalam La Buku Torende, kita menemukan semangat rakyat; dalam Khau Sing Khan, kita menemukan jejak sejarah. Barangkali keduanya memang sosok yang sama, hanya dipandang dari dua mata: satu dari mitos yang membumbung ke langit, dan satu dari sejarah yang berpijak pada bumi.
Maka pertanyaan “Siapa sebenarnya La Buku Torende?” tak selalu butuh satu jawaban. Mungkin ia adalah bayangan Khau Sing Khan yang berubah jadi hikayat. Mungkin pula ia adalah semangat Buton yang mengambil rupa siapa pun yang membela tanahnya dengan nyawa dan loyalitasnga. Dan selama cerita ini masih diceritakan, nama itu tak akan pernah benar-benar hilang.

Posting Komentar untuk "Siapa La Buku Torende?"
Posting Komentar