Kontrak di Tanah Kelahiran
Di sebuah gang sempit di Jalan Pemuda III, Rawamangun, Jakarta Timur, tawa masih bisa terdengar seperti denting sendok yang jatuh di lantai dapur; nyaring, spontan, dan tidak pernah malu untuk mengganggu. Dinding rumah beradu dengan dinding rumah, menyisakan lorong selebar bahu orang dewasa. Tetapi dari situlah kehidupan tumbuh: dari suara sandal jepit yang beradu dengan lantai semen, dari aroma sambal terasi yang dibagikan oleh angin pukul empat sore, dari seruan anak-anak yang tidak pernah kehabisan permainan meskipun tidak memiliki halaman.
Di sini, ruang sempit tidak pernah menjadi alasan untuk membatasi hubungan. Justru, di antara sempit itulah manusia saling menyapa, saling menyuap rezeki, dan saling menjaga memori. Mereka hidup bukan dari luasnya ruang, tetapi dari rapatnya rasa. Barangkali, tawa yang paling tulus memang hanya bisa lahir di tempat yang tidak memiliki ruang untuk berpura-pura. Tempat di mana suara lebih dipercaya daripada kata-kata, dan sapaan lebih penting daripada pintu yang biasa dikunci.
Lalu saya bertanya dalam diam, apakah ruang-ruang sempit itu justru lebih berhasil membesarkan manusia, dibanding rumah-rumah besar yang bahkan tidak tahu siapa tetangga sebelahnya?
Bagi sebagian orang kota, gang sempit hanyalah lorong sempit yang dilalui sepeda motor dan pengantar paket. Namun bagi warga Rawamangun yang lahir dan tumbuh di dalamnya, gang adalah ruang tamu bersama. Di situlah orang saling berbagi kabar, menyimpan rahasia, hingga bertukar rasa kehilangan. Tidak ada pagar tinggi yang memisahkan rumah dengan tetangga. Bahkan batas antarhalaman pun sering kali hanya pot tanaman atau kursi plastik yang saling pinjam saat ada hajat. Segalanya begitu cair, seperti sop buntut yang dimasak ramai-ramai untuk selamatan.
Di gang-gang sempit Jalan Pemuda III, ruang hidup tidak ditentukan oleh luas tanah, melainkan oleh padatnya interaksi. Di setiap sudut gang, ada ritme kehidupan yang tidak pernah berhenti: ibu-ibu yang menjemur cucian sambil saling mengulas harga cabe, anak-anak yang belajar naik sepeda dengan kaki menyentuh tembok, dan bapak-bapak yang mengaso di bangku panjang sambil menyebut nama setiap orang yang lewat.
Tidak ada yang benar-benar sendiri di sini. Bahkan sunyi pun tetap terdengar ramai karena ditingkahi oleh suara musik dari speaker kecil yang disambungkan ke HP, dan sapaan dari dapur ke dapur. Rasa memiliki tidak diikat oleh surat kepemilikan tanah, melainkan oleh kebersamaan yang dibangun bertahun-tahun. Mungkin itulah mengapa, meskipun sempit, kampung ini terasa lapang di dada mereka yang tumbuh bersamanya.
Rumah-rumah di gang ini jarang yang besar. Dari luar, bentuknya seperti kotak kecil yang ditumpuk rapat, berdempet seolah-olah takut tercerai. Atap-atapnya beradu di langit Rawamangun, membentuk pola tak beraturan yang sulit dibaca oleh satelit, tapi akrab sekali bagi siapa pun yang lahir di dalamnya. Sebagian rumah itu berdiri di atas tanah warisan, dibagi-bagi menurut urutan anak, dibangun tanpa rencana, tanpa denah, hanya berdasarkan kebutuhan harian dan rasa kekeluargaan. Satu petak untuk si sulung, satu untuk si bungsu, dan sisanya entah bagaimana tetap muat untuk anak menantu dan cucu yang pulang saat lebaran.
Ruang-ruang itu seperti tumbuh mengikuti alur hidup, bukan alur arsitektur. Kadang satu ruang tamu bisa berubah jadi kamar tidur malam hari, lalu jadi ruang makan saat ada selamatan. Lemari dipinggirkan, meja dilipat, kasur digulung, dan tirai ditarik untuk menciptakan ilusi privasi. Rumah-rumah ini bukan hanya tempat tinggal, tapi tempat untuk terus menyesuaikan diri dengan irama keluarga. Mereka tidak luas, tapi lentur. Tidak mewah, tapi tangguh. Di dalam sempitnya ruang, ada kelapangan hati yang tidak bisa dijelaskan lewat gambar denah.
Namun di balik semua itu, ada kenyataan yang tidak bisa dihindari: keluarga tumbuh, tapi tanah tidak bertambah. Banyak yang kemudian harus memilih, antara tinggal bersama dalam sempit, atau pindah jauh dan perlahan kehilangan kampung. Saya sering bertanya dalam hati, apakah ukuran rumah benar-benar menentukan kebahagiaan? Ataukah yang lebih penting adalah keberanian untuk tetap tinggal, meski ruang menyempit dan suara mulai bertumpuk di dinding yang sama?
Di balik dinding yang sempit dan genteng yang bersenggolan itu, tersimpan cerita-cerita pelik tentang warisan dan batas yang kabur. Banyak dari mereka yang tinggal di tanah peninggalan orang tua, tapi justru menjadi penyewa di atas tanah sendiri. Tanah dibagi tanpa sertifikat, rumah didirikan berdempetan tanpa denah resmi, dan garis hak milik hanya diketahui dari ingatan kolektif keluarga. Ketika generasi baru tumbuh, batas itu mulai goyah. Rumah dijual sepetak demi sepetak, dibangun ulang oleh menantu yang punya cukup dana, sementara yang lain hanya bisa menatapnya dari pagar.
Mereka yang tidak punya cukup uang, akhirnya harus menyewa rumah di atas tanah yang dulunya tempat mereka bermain kelereng dan mengintip bajaj lewat sela pagar. Tidak sedikit yang bertahan di rumah orang tuanya, tapi membayar kontrakan pada saudaranya sendiri. Hubungan kekeluargaan jadi berlapis: satu sisi dipenuhi kenangan, sisi lain dilingkari oleh tagihan bulanan. Tidak ada lagi ruang yang benar-benar gratis, bahkan di tanah yang dulu mereka timba airnya dan cangkul sendiri pekarangannya.
Kontrak di tanah sendiri bukan karena lupa daratan, tapi justru karena terlalu lama berdiri di atasnya. Mereka tinggal di antara kenangan dan kenyataan, di tengah lorong yang menyimpan nama-nama lama, tapi sudah berpindah tangan. Saya pernah duduk di beranda seorang ibu yang menyeduh teh sambil berkata pelan, “Dulu ini punya bapak saya... sekarang saya harus bayar tiap bulan.” Tidak ada kemarahan dalam ucapannya, hanya semacam pasrah yang sudah lama akur dengan keadaan. Saya pulang dari beranda itu sambil menggumam, mungkin yang paling sulit dari hidup bukan kehilangan tanah, tapi kehilangan hak untuk memeluk masa lalu tanpa harus membayar sewanya.
Di gang-gang sempit Jalan Pemuda III, Jakarta tidak lagi terdengar seperti kota metropolitan yang sibuk dan penuh ambisi. Ia menjadi desa kecil yang bertahan di tengah gemuruh beton dan jalan tol. Di sini, rumah-rumah kecil tidak sekadar tempat tinggal, tapi penanda bagaimana manusia memilih bertahan dalam ruang yang terus menyempit. Saya belajar satu hal dari mereka yang tinggal di tanah yang semakin padat itu: bahwa hidup tidak selalu tentang memiliki lebih banyak ruang, tapi tentang siapa yang masih bersedia saling memberi tempat—meski hanya seluas lantai ubin tempat dua cangkir teh disajikan tanpa tergesa.

1 komentar untuk "Kontrak di Tanah Kelahiran"