Dimana Makanan Itu Disimpan Om?
Jalan ke Gunung Sejuk kini sudah beraspal hitam. Aspal yang mengilap jika diguyur hujan, seperti baru disemir oleh kabut yang jatuh dari langit. Tak lagi ada batu-batu berserakan atau lumpur yang menahan roda motor—tapi perjalanan ke sana tetap terasa jauh, seperti menempuh jarak ke masa lalu. Sebab Gunung Sejuk bukan sekadar tempat, ia adalah ruang kenangan: berdiri tenang di antara dua tebing hijau, tujuh kilometer dari laut dan sekitar empat puluh kilometer dari kota.
Di sanalah rumah kita dulu. Tempat di mana suara ayam jantan membelah sunyi sebelum matahari menyapa, dan dapur-dapur tua menyimpan rahasia masa kecil: kambose dan kakeokeo. Dua nama yang mungkin tak lagi akrab di lidah anak-anak sekarang. Tapi dulu, dua makanan itu merupakan penyangga hidup. Kawan dari hari yang panjang.
Kambose dibuat dari jagung tua. Direbus begitu saja, lalu ditaburi garam. Tanpa santan. Tanpa rempah. Tapi siapa butuh kemewahan kalau perut kenyang dan hati tenang?
Kakeokeo, saudaranya yang keras kepala, terbuat dari singkong yang dijemur sampai menghitam. Lalu direbus, dan diberi garam. Itu saja. Tapi dari situ, kita belajar bahwa tidak semua rasa harus diramaikan. Ada rasa-rasa yang justru menyentuh karena kesendiriannya.
Tapi kemudian hadir beras. Putih. Wangi. Mewah. Beras adalah bahasa baru yang dibawa para perantau dari kota-kota jauh: Ambon, Sorong, Samarinda. Mereka yang pulang membawa sepatu kulit dan selera baru, mungkin juga rasa malu pada makanan yang membuat mereka tumbuh gigi.
Sekitar awal 2000-an, usai banjir surut dari amukannya, dapur-dapur di Gunung Sejuk mulai berbenah. Panci untuk menanak kambose dipindahkan ke gudang. Kayu bakar tidak lagi mengepul saban pagi. Ibu-ibu mulai membeli beras, demi satu piring nasi putih agar anaknya tidak lagi dianggap “susah.”
Dan perlahan, kambose pun kehilangan suaranya. Kakeokeo tinggal nama yang disebut hanya saat musim paceklik atau ketika nenek sedang duduk sendiri di dapur dan ingin bernostalgia.
Padahal, dari makanan itulah kita belajar bertahan. Belajar bahwa ketahanan bukan soal banyaknya isi dompet, tapi kemampuan untuk hidup dari apa yang tumbuh di halaman sendiri. Jagung, singkong, garam—itulah dulu definisi “cukup”. Tapi kini, cukup telah ditukar dengan gengsi.
Anak-anak sekarang lebih mengenal mie instan daripada cara menjemur singkong. Mereka mengira nasi adalah satu-satunya bentuk hidangan mewah dari dapur, padahal ada jenis kemewahan lain yang lebih diam-diam, yang direbus perlahan, yang ditaburi garam dan sabar.
Apa yang terjadi pada kambose dan kakeokeo adalah cermin kecil dari tragedi yang lebih besar: hilangnya keberanian untuk percaya pada yang sederhana. Kita meninggalkan makanan leluhur, bukan karena rasanya tidak enak, tapi karena takut dianggap belum maju.
Tapi mungkin belum terlambat.
Mungkin masih ada satu dua tungku yang menyala di dusun paling ujung. Mungkin masih ada anak muda yang dalam mimpinya mencium bau jagung rebus. Mungkin masih ada hati yang diam-diam ingin kembali—bukan ke masa lalu, tapi ke kearifan yang sekarang kita buang-buang.
Kambose dan kakeokeo bukan kenangan. Mereka adalah pelajaran.
Pelajaran bahwa hidup yang sederhana bukan berarti hidup yang kekurangan. Bahwa makanan bisa menjadi medium pulang, tempat jiwa kita berhenti sejenak dari segala hiruk-pikuk.
Jadi, jika suatu hari kamu mendengar seseorang berkata, "Kakeokeo enak dimakan panas-panas," duduklah. Dengarkan. Itu bukan hanya tentang makanan, tapi tentang sebuah zaman—zaman yang mungkin telah berlalu, tapi masih bisa kita panggil pulang, perlahan-lahan, dengan rasa. Dengan senyum para tetua yang berukurang giginya.

Posting Komentar untuk "Dimana Makanan Itu Disimpan Om?"
Posting Komentar