Patah Hati si Bajingan
Catatan: semisal puisi ini tidak menyesali patah hati, ia meminumnya. Luka tidak dirawat, melainkan ditenggak sampai mabuk. Cinta hadir sebagai candu: menghangatkan, merusak, dan tetap diinginkan. Di sini, kehilangan bukan akhir, melainkan kebiasaan yang terus diulang tanpa niat sembuh.
Patah Hati si Bajingan
bajingan
tak ada yang buram dalam kepayahan ini
semuanya terlalu menyala untuk digelapkan
kuteguk segelas amer
di meja reyot, kepala bandar tekor
aku menenggak sisanya tanpa permisi
dan bibir botol berbisik mengalun
teguk
teguklah
di dasar dua botol amer
terdapat surga
yang tak pernah pandai menolak peminum
kuteguk lagi
panasnya merayap di tenggorokan
menyeretku ke surga lain
yang berdiam di rerimbun alismu
segar dalam tatapanmu
aku meluncur dari ketinggian hidungmu
jatuh, tercebur, tenggelam
dalam pusaran ciuman-ciuman
bajingan
mabuk ini mulai melayang
mengepakkan kenyataan
aku limbung bukan oleh minuman
melainkan oleh bejatnya bayangmu
maka kuminum sebotol bir sendirian
di malam yang makin lapuk
namamu mengendap di bibir gelas
tak habis diteguk
tak sanggup diludahkan
Bukit Lamando
26 April 2020

Posting Komentar untuk "Patah Hati si Bajingan"
Posting Komentar