Pagi dan Kita

Catatan: semisal puisi ini merekam pagi sebagai ruang paling jujur bagi cinta: tanpa slogan, tanpa heroisme, hanya tubuh, senyum, dan kehangatan yang saling menemukan.

Pagi dan Kita

Pagi ini
mentari perlahan mengusir mimpi.
Matamu terbuka,
menemukanku
di lengkung bibir paling cerah.

Kau tersenyum.
Aku tersenyum.

Senyuman kita saling menyentuh,
bercumbu dalam bahasa rahasia
yang dipahami oleh kecupan
sebelum penolakan sempat berpikir.

Sayang,
bahasa ini tak pernah minta arti:
ia manja, menua dalam pelukan,
bertahan
saat dunia kusut,
saat negeri kalang-kabut.

Dan senyummu
adalah puisi yang tak belajar mengelak.

Pagi ini
aku berteduh di matamu.
Pelukanmu tiba-tiba merapat,
hangatnya menelusup
ke tempat yang selalu kurindukan.

Dengan suara parau menggemaskan,
kau berbisik,
“Kak, gendong aku ke kamar mandi.”

Dan runtuhlah
segala kemungkinan.
Dalam ruang kecil kehidupan ini,
kita hanya sepasang kekasih
yang hidup dengan cara sederhana.

Kita
tak sibuk mencari alasan bahagia,
tak takut menggenggam,
tak lagi berhitung saat melangkah,
hari demi hari.

Kita bukan mereka
yang setia pada sumpah
hanya untuk mengingkarinya,
bersuara atas nama rakyat
tapi menyambung lidah buaya.

Tidak, Sayang.
Itu bukan kita.

Pagi ini
adalah pagi kita berdua,
manis di depan jendela,
sebelum sarapan menemukan meja.

Dan dunia
meski riuh, amburadul, gaduh
tak pernah cukup kuat
untuk mencuri
kedamaian kecil
yang kita rawat pelan-pelan.

Gunung Sejuk,
5 November 2020

Posting Komentar untuk "Pagi dan Kita"