Teras Rumah, Kopi, dan Fana Merah Jambu

 



Di kampung, sore menjelang adalah waktu yang paling saya nantikan. Suasana menjadi begitu menyenangkan dan harmonis, terutama di lapangan sepak bola. Pemuda-pemuda berkumpul, berlari mengejar bola dengan semangat. Kadang, di lapangan voli sebelah, terlihat pula pemuda-pemudi yang sedang bermain voli, saling tertawa dan bercanda.

Biasanya, sore adalah waktu yang menggembirakan bagi siapa saja yang ingin menikmati kegiatan kesukaannya. Meratapi senja yang memancarkan kearifan, berbincang dengan sahabat di tepi sungai, atau sekadar duduk di teras rumah. Olahraga, berbicara, atau apa pun yang menyenangkan, seakan semua bisa dilakukan di waktu ini.

Sore, dengan segala ketenangannya, memang sengaja diciptakan untuk memberi kesempatan kita merasakan kedamaian setelah seharian penuh dengan penat dan rutinitas.

Itulah yang selalu saya rindukan setiap sore. Bersama bapak, kami duduk di teras rumah. Hanya berbincang seadanya, membahas arah hidup, tujuan yang masih jauh di depan, dan apa saja yang terjadi hari itu—tentang perjalanan hidup yang kadang tak menentu.

Berbicara di teras rumah memang sebuah kebiasaan yang baik. Selain dapur yang menjadi sumber kedamaian dalam rumah, teras juga bisa menjadi tempat kehangatan keluarga. Terutama saat perbincangan itu selalu diakhiri dengan secangkir kopi buatan mama. Rasanya, teras itu bukan hanya sekadar bagian dari rumah. Teras adalah pintu menuju surga kecil di dunia ini, tempat kedamaian yang sesungguhnya.

Seperti sore ini, saya dan bapak kembali duduk di teras rumah, setelah beberapa hari saya berjalan tidak menentu, mencoba mencari jawaban atas keresahan yang menggantung di kepala. Perjalanan yang mungkin hikmahnya baru akan saya temui nanti, saat saya merenung lebih dalam.

Saat kami duduk di teras, bapak selalu menanyakan tentang kuliah dan perjalanan saya. Pertanyaan sederhana yang sering kali mengarah pada percakapan panjang. Namun, hari itu perbincangan terhenti sejenak ketika bapak meminta saya untuk membuatkan kopi. "Bapak rindu kopi buatanmu, nak," katanya. Tanpa banyak bicara, saya langsung menuju dapur, meracik kopi untuk kami berdua.

Sambil meracik kopi, ingatan saya terbang ke sebuah toko buku. Satu buku yang akhir-akhir ini sering dibicarakan teman-teman. Filosofi Teras—judul itu berputar di kepala. Apa sebenarnya yang dibahas dalam buku itu? Apakah ia berbicara tentang kesederhanaan dan cara kita menerima segala yang datang pada hidup kita? Kata teman-teman, buku itu membahas filsafat Stoikisme.

Mendengar kata Stoikisme, saya teringat pada bacaan tentang kaum sinisme yang turut memengaruhi perkembangan filsafat Stoik di Athena sekitar 300 SM, yang diawali oleh Zeno. Kata 'stoic' berasal dari bahasa Yunani, yang artinya 'stoa', atau teras. Mungkin, buku Filosofi Teras itu juga membahas hal serupa. Penasaran sekali saya. Mungkin nanti, saya akan membeli buku itu, menambah wawasan, dan memahami lebih dalam.

Kopi sudah selesai diseduh. Saya kembali ke teras, dan sebelum sampai, langkah saya terhenti sejenak. Dari dalam teras, terdengar suara lagu Fanah Merah Jambu dari Fourtwnty. Bapak mendengarkan lagu indie? Tumben sekali. Ah, semoga bapak terus menikmati lagu-lagu seperti ini.

Saya melangkah menuju teras dengan dua cangkir kopi di tangan, mendekat ke bapak yang menunggu.

Kami melanjutkan percakapan yang sempat terhenti. Kali ini, kami berbicara tentang sebuah konsep aneh: jika banyak kotak kardus bisa menempatkan diri di masyarakat, apakah itu akan membawa persatuan? Atau hanya menjadi celotehan kosong seperti yang sering kita dengar dulu? Kami tertawa. "Mungkin, kotak kardus yang menjadi sampah itu bisa dibakar bersama-sama," kata saya, mengajukan ide iseng. "Tapi itu hanya 'sepertinya', Pak," saya melanjutkan, sambil tertawa. "Kemungkinan itu tidak akan pernah jadi kenyataan."

Bapak tersenyum bijak, seakan mengerti bahwa dalam percakapan ini, ada lebih dari sekadar kata-kata yang keluar.

Berbicara di teras rumah, menikmati secangkir kopi, dan berbagi cerita adalah kegiatan yang perlu dibiasakan. Karena dari situlah, tercipta keakraban yang tak hanya menghangatkan tubuh, tetapi juga hati.

Teras rumah, kopi, dan perbincangan—itulah komposisi terbaik yang mampu menjalin harmonisasi dalam ruang nyaman di kehidupan kita.

Posting Komentar untuk "Teras Rumah, Kopi, dan Fana Merah Jambu"