Masa Lalu Bapak Menyala Saat Berboncengan


Waktu saya masih di kampung, saya dan bapak sering berbincang tentang apa saja. Mulai dari topik yang "hot" di kampung, kabupaten, provinsi, sampai urusan negara. Apa pun yang bapak baca, pasti ingin ia tukar pendapat. Meski seringkali, saya tak mampu menjangkau pemikiran bapak yang begitu luas, penuh dengan pengalaman hidup.

Selayaknya seorang anak, tak pantas rasanya meremehkan orang tua, bahkan dalam pikiran sekalipun. Apalagi perasaan.

Berbincang dengan bapak itu sungguh asyik. Di balik obrolan, selalu ada arahan yang menyelinap dengan lembut. "Jangan salah melangkah. Harus pandai dalam pergaulan. Berteman dengan siapa saja, tapi tanam batasan." Bapak berbicara, saya mendengar, dan saya tahu kapan harus menjawab. Dari bapak, saya belajar kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Ada didikan tersirat di situ, ada pesan moral yang begitu halus.

Kadang, bapak berkata, "Nak, ketika bicara sama bapak, tidak usah tertekan. Anggap saja bapak ini letingmu. Kita sedang membicarakan hal-hal di luar, bukan adab-adab dalam rumah." Kalimat itu membuat saya berani. Berani mengungkapkan ide, mengeluarkan argumen, tanpa ragu dan canggung. Dari bapak, saya paham: jika kita tidak memberi tekanan pada seseorang, ia pasti akan bercerita lebih banyak. Ini trik bapak untuk menggali hiruk-pikuk diri saya. Dan entah kenapa, trik itu selalu berhasil.

Saya jadi ingat satu kalimat dari Syahid Muhammad: "Kamu bukanlah apa yang kamu tahu, tapi apa yang kamu beritahu."

Begitu seringnya kami berbincang, bahkan di atas motor pun, kami bertukar cerita. Kadang, saya tak terima: kenapa hanya saya yang selalu digali? "Ah, kali ini giliran bapak," batin saya. Sedikit nakal, tak apa, kan?

Suatu kali, saya membonceng bapak. Tapi, tiba-tiba bapak menyuruh saya berhenti. "Sini, biar bapak yang bawa motor. Biar suasana masa lalu bapak lebih menyala-nyala," katanya. Saya tertawa mendengarnya. "Jangan ketawa begitu. Begini-begini bapak lebih gaul dari kamu!" ujarnya dengan senyum baterek—senyum mengejek khas Ambon yang sukses memamerkan gigi-gigi saya.

Sambil mengendarai motor, bapak mulai bercerita tentang masa mudanya. Saat menempuh Sekolah Menengah Atas di Kota Baubau. Lika-liku hidup yang penuh perjuangan. Dulu, katanya, hidup itu berat, menuntut siapa pun harus beradaptasi. Bapak pernah jadi buruh angkut semen di pelabuhan. Pernah juga membantu menyortir buah yang akan dijual.

"Kalau menyortir buah itu pekerjaan paling enak," katanya, senyum merekah. "Selain kerja, bapak bisa makan buah sepuasnya." Tapi ketika menceritakan jadi buruh angkut semen, wajah bapak berubah sendu. Itu pekerjaan paling berat, katanya. Sampai sekarang, sisa-sisa beban itu masih membekas di punggungnya.

Namun ada cerita lain yang membuat bapak riang—tentang bagaimana ia bertemu mama. Tapi eits... yang ini biarlah saya simpan untuk diri sendiri, bukan untuk dibagi.

Sobat baca sekalian, pernahkah kalian bertanya: kenapa jika seseorang menceritakan masa lalu perihal cinta, selalu ada tawa dan riang gembira?


Baca Juga:  

Bapak sering senyum-senyum sendiri saat menceritakan bagaimana ia falling in love pertama kali melihat mama. Kalau sudah sampai di momen itu, bapak bahkan suka menepuk-nepuk tangki motor dengan semangat, seolah sedang merayakan masa lalu yang begitu manis. Ah, memang benar, masa lalu sepertinya diciptakan untuk dikenang dan ditertawakan.

Tiba-tiba, bapak melempar pertanyaan yang tak terduga.
"Ponja, kamu pernah tidak jalan berboncengan dengan orang yang kamu sukai?"

Saya yang sedang duduk di belakang bapak langsung kaget, nyaris ingin loncat dari motor. Pertanyaan yang terlalu frontal! Bagaimana ini? Haruskah saya mengalihkan topik? Tapi percuma. Bapak bukan orang yang mudah dikelabui. Sepertinya lebih baik pasrah saja. Toh, jawabannya tinggal pernah atau tidak.

Tapi tunggu—ini jebakan. Saya tahu persis kalau saya jawab pernah, bapak pasti punya segudang pertanyaan lanjutan. Aduh, salah langkah lagi gara-gara keisengan saya tadi.

"Heh, lama juga kamu menjawab," bapak menyindir dengan nada menggoda. "Berarti sudah pernah, ya?"

Saya cuma bisa mengeluarkan suara kecil dari mulut.
"Hehehe..."

Bapak tertawa kecil di atas motor, puas dengan respons saya yang salah tingkah. Sepertinya ia sudah menang tanpa perlu banyak bicara.

"Sudahlah," katanya sambil menepuk-nepuk stang motor, "nanti kita cerita tentang cinta. Kamu itu masih anak baru. Banyak yang mesti dipelajari."

Bapak memarkirkan motor di depan rumah, masih dengan senyum kemenangan. Saya? Hanya bisa mengelus dada, menyadari bahwa dalam permainan kata, bapak memang selalu lebih unggul.

Posting Komentar untuk "Masa Lalu Bapak Menyala Saat Berboncengan"