Anakmu Mau Dinamakan Siapa, Lur?



Gambar, gambar kucing, gambar nama, gambar lucu, komik lucu

Di Sunda, nama-nama semacam Ujang, Neneng, Asep, telah mengalami perubahan. Nama-nama itu sudah tidak lagi dialamatkan ke anak Sunda. Nama-nama itu telah tergantikan dengan nama-nama yang jauh lebih moderen. Dan terdengar keren.


Selain di Sunda, di Jawa pun, orang-orang sudah mulai meninggalkan nama-nama yang memiliki huruf "O". Mulai dari Paijo, Susilo sampai Joko, namun shampoo tidak masuk yah, Lur! Itu nama yang berbeda. Nama-nama tersebut mengalami perubahan yang sangat radikal, dari nama-nama khas Jawanisme ke Barat, ke nama-nama berbau Eropa hingga yang sulit disebutkan.

Apa yang menimpa, Sunda dan Jawa, lambat laut, juga menimpa orang-orang di kampung kita. Di tempat kita yang memiliki nama khasnya masing-masing. Orang-orang Buton misalnya, yang biasanya menggunakan La dan Wa di tanah rantau semacam Ambon, sudah tidak lagi menggunakan nama tersebut sekitar 10-15 tahun terakhir ini. Yang semestinya, nama tersebut dimiliki, dipunyai. Meski kemudian kita bisa berdebat tentang hal tersebut. Namun, terlepas dari penggunaan nama La dan Wa tersebut. Nama tersebut sudah tidak lagi ada. Lebih spesifik lagi, nama yang merujuk gelar tersebut perlahan mulai punah ditelan zaman.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah mengapa terjadi demikian?

Untuk menjawab hal ini, kita bisa merujuk pada perubahan masa yang kadang mengalami perubahan yang cepat. Termasuk nama. Nama dianggap bagian dari identitas seseorang, tanpa harus menyebutkan dari mana dia berasal, seringkali kita bisa dengan hanya menebak-nebak dan tahu nama dia. Susilo, kita akan tahu dari Jawa. Atau La Ponja, kita bisa menebak dari Buton. Atau Neneng, mungkin dari Sunda. Namun bagaimana bila kita bertemu dengan orang bernama, yang ke Inggris-inggrisan, semacam Marcell, Alex, Richard? Atau nama ke arab-arban semacam Muhammad Aswad? Muhammad Ali? Muhammad Zulfikar? Kira-kira dari mana asal mereka? Akan agak sulit tertebak. Pikiran kita akan berhenti pada polarisasi agama, bukan polarisasi asal.

Untuk menutup tulisan yang agak ngehek ini, rasanya saya hanya ingin bilang bahwa. Di masa depan, suka atau tidak suka. Pertarungan nama bukan lagi yang berbau lokalitas atau agamis. Namun polarisasi nama sebagai manifestasi identitas diri beralih kepada nama Amuba yang identik dengan nama obat sakit kepala, semacam Audrea parasitamol cili-covid.

Jadi, siapa nama anakmu kelak, Lur? Bodrex atau Ampicilin? 

Ditulis oleh: La Songko
Kalian bisa baca tulisan lainnya di

Posting Komentar untuk "Anakmu Mau Dinamakan Siapa, Lur?"