Mengapa di Kampung Hidup Berjalan Begitu Lambat Sedangkan di Kota Waktu Seolah Berlari dengan Cepat
Di kedai itu, seorang teman sedang membandingkan hidupnya di kampung dengan hidupnya di tanah rantau, utama kehidupan di kota, di pasar--yang rasanya berjalan begitu cepat.
Di kota orang-orang hidup bagai angin, waktu berputar tak terasa. Seolah, 24 jam waktu yang diberikan seperti tidak cukup untuk mengais rezeki. Dari pagi selepas subuh, berjibaku dengan barang-barang dagangan. Waktu berputar masuk sore hari lalu hingga jam 10 malam hampir dini hari dan bergegas merapikan jualan. Malam dihabiskan dengan beristirahat. Lalu besoknya lagi harus bergulat dengan jualan, pulang menjelang malam. Istirahat. Besok bangun selepas subuh, jualan lagi, pulang menjelang malam. Istirahat, pulang menjelang malam, istirahat. bangun lagi, jualan lagi dan Begitu seterusnya.
Apakah memang hidup seperti itu?
Pertanyaan itu kemudian menggiringnya kesebuah tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota, lalu lalang manusia dan melihat uang berpindah dari tangan satu ke tangan yang lain--yang rasanya begitu menyesakkan.
Teman saya itu lantas membandingkan hidupnya di kampung, yang rasanya, waktu berputar begitu lambat. Tak ada yang dikejar atau kejar mengejar hidup. Semuanya berjalan apa adanya. Baik-baik saja. Bahkan hidup begitu sederhana. Masih sempat melihat air di kali mengalir, duduk bersama sanak saudara, berbagai cerita selepas magrib. Dan hal-hal kecil namun terasa begitu berarti.
Di kampung, waktu seolah berhenti. Rasanya hidup penuh dengan beragam aktivitas yang bisa dilakukan dalam satu hari. Berkebun, menjala ikan dan masih bisa bercengkrama dengan tetangga sekitar hingga puas. Hal yang barangkali begitu istimewa bila dipikir-pikir. Tak pernah bisa dirasakanya saat di kota, di pasar. Meski di pasar memiliki Senda gurau juga, namun rasanya begitu getir. Hambar dan tak cukup berarti apa-apa.
Dan satu-satunya, kehidupan di kampung terlihat agak berbeda dengan kehidupan di kota hanya soal uang. Tak lebih. Di kota, memiliki uang seperti sebuah nafas panjang. Hal tersebut berbeda dengan di kampung. Di kampung, keakraban dan hidup bersahaja adalah satu hal yang berarti. Uang mungkin tak punya banyak. Namun, damai dan ketenangan seolah hadir dari ketidak adaan tersebut.
Lalu, mengapa kehidupan kota yang terasa begitu bajingan, masih jadi hal yang ideal? Mungkin jawabannya masih sama; Uang!. Uang mengubah persepsi manusia. Kejar-kejaran dikehidupan kota adalah kejar-kejaran dengan uang. Dengan denyut nafas mereka. Namun, di kampung, sebatang rokok lintingan bisa begitu berarti. Atau mengisap sebatang rokok Surya di saat lagi kere bisa jadi begitu paripurna. Di banding di kota, yang bisa mengisap 10 selop rokok dalam satu hari, yang tak punya arti apa-apa.
Masih maukah baku hantam di kota? Sedangkan ada kedamaian di kampung sendiri! Dan kita masih mencari-cari kedamaian di tanah lain, yang sama sekali hanya kamuflase yang seolah-olah terlihat sangat bercahaya itu? masihkah, Lur?
Ditulis: La Songko

Posting Komentar untuk "Mengapa di Kampung Hidup Berjalan Begitu Lambat Sedangkan di Kota Waktu Seolah Berlari dengan Cepat"
Posting Komentar