Menunggu Mama Pulang Pasar
Pagi tadi, ketika matahari sudah meninggi, saya terbangun, cuci muka, sikat gigi, dan duduk di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi favorit. Kebetulan hari ini adalah hari pasar. Jarak antara pasar dan rumah saya kurang lebih 7 kilometer.
Seperti kebiasaan di hari pasar, mama saya berangkat ke pasar menggunakan motor bebek. Mama pergi belanja seorang diri, karena saya agak susah bangun pagi. Itu sebabnya mama selalu berangkat sendiri. Di sisi lain, mama saya memang orang yang kuat.
Sambil menikmati kopi dan alunan musik indie dari Sisir Tanah, saya melihat mama baru saja pulang dari pasar. Melihat itu, kenangan masa kecil saya seketika beterbangan layaknya kunang-kunang. Saya teringat bagaimana dulu saya, kakak, dan adik-adik selalu menunggu mama pulang dari pasar. Kami sering membicarakan belanjaan mama dan kue yang akan kami makan.
Seringkali, saat menunggu, terjadi pertengkaran kecil. Ya, begitulah kami saat kecil. Selalu bertengkar karena hal-hal sepele. Tapi, hikmahnya, pertengkaran itu membuat kami merindukan masa kecil yang penuh keakraban—meskipun kadang bertengkar terus, haha. Masa lalu memang selalu layak dikenang dan ditertawakan.
Kegiatan menunggu mama pulang dari pasar adalah rutinitas mingguan kami. Tanpa sadar, kegiatan ini sering terjadi di hari Minggu, hari di mana kami libur sekolah dan pasar di sini buka. Pasar di sini buka tiga kali seminggu, dan Minggu adalah hari paling menyenangkan bagi kami. Itu adalah hari ketika kami berbincang, bertengkar, dan bekerja bersama di dapur.
Kami selalu tahu kapan mama akan pulang dan tiba di rumah. Kami sudah hafal suara motor mama yang biasa digunakan untuk bepergian. Pukul 10 siang, suara motor mama terdengar berhenti di depan rumah. Kami yang semula sedang menonton kartun yang hanya tayang seminggu sekali, langsung berlari menuju mama. Dengan sigap, kami berebut untuk melihat kantung belanja mana yang akan kami pegang. Memilih kantung belanja mama bukan tanpa alasan. Alasan utamanya adalah siapa yang berhasil mendapatkan kantung kue, dia akan mendapatkan kue paling enak.
Namun, kakak kami yang paling tua selalu galak. Meskipun kami berhasil menemukan kantung kue, kakak kami yang tertua selalu ingin mendapatkan kue yang paling enak. Jika keinginannya tidak dituruti, pertengkaran pun tak terhindarkan. Seringkali, perkelahian ini berakhir dengan salah satu dari kami menangis. Ketika itu terjadi, datanglah tangan keadilan—tangan mama. Suara tangisan pun berhenti begitu mama mengambil kantung kue dan membagikan kue secara merata pada kami.
Haha… masa lalu memang selalu layak dikenang dan ditertawakan.
Masa kecil adalah masa yang paling menggembirakan dalam hidup. Di masa itu, kita tidak pernah memikirkan beban hidup. Yang ada di pikiran kita hanya bermain, dan terus bermain.
Namun, sekarang, masa kecil kami hanya tinggal kenangan dan cerita yang sering kami bahas ketika berkumpul bersama. Seiring bertambahnya usia, kami mulai menyadari bahwa setiap masa memiliki ceritanya sendiri. Seperti masa kini, di mana kami tidak lagi berkumpul dalam satu atap yang sama. Masing-masing dari kami menjalani hidup dengan cara masing-masing.
“Ponja, bantu mama angkat barang belanjaannya.”
“Iya, mama.”
Dan dengan ini, saya menuliskan kerinduan saya kepada kakak dan adik-adik saya.

Posting Komentar untuk "Menunggu Mama Pulang Pasar"
Posting Komentar