Cerita Sore di Pinggir Sungai

Gambar anak sedih gambar hutan gambar pohon gambar petani

"Pon, ceritakan sebuah kisah yang tidak menyenangkan."

Angin berdesir lembut, membawa aroma tanah basah. Rumput-rumput bergoyang, seolah berbisik, dan aliran sungai mengalir dengan tenang, memantulkan kilau senja yang mulai memudar. La Ponja menarik napas panjang, seakan ingin memasukkan ketenangan alam itu ke dalam setiap helaan napasnya.

"Baiklah, saya ceritakan sebuah kisah tentang seorang anak bernama Kulitiri." Ucapnya pelan, matanya menatap jauh ke depan, seakan menelusuri jejak-jejak masa lalu yang telah terlupakan.

Dan La Ponja pun mulai bercerita:

Konon, di zaman dahulu kala, ada sebuah masyarakat yang hidup dalam kedamaian. Mereka bertani dan beternak sekadar untuk memenuhi kebutuhan, tidak lebih, tidak kurang. Hidup mereka sederhana, tapi cukup. Setiap tetes keringat yang jatuh ke tanah adalah anugerah yang mereka syukuri. Mereka tak mencari kemewahan, hanya ketenangan di tengah keluarga.

Namun, segalanya berubah.

Di tahun 60, datanglah seorang kepala desa yang zalim. Ia haus kuasa, serakah, dan memperlakukan rakyatnya seperti alat pemuas kepentingan pribadi. Hukum adat yang selama ini menjaga harmoni ia injak-injak. Tanah yang seharusnya menjadi milik bersama, ia serahkan kepada penguasa yang lebih besar. Bahkan untuk mendapatkan air, rakyatnya harus berjalan sejauh empat kilometer, melintasi jalanan berbatu dan jurang curam. Setiap tetesan air yang mereka peroleh adalah hasil dari keringat dan luka di telapak kaki.

Lalu di tahun 64, lahirlah seorang anak laki-laki bernama Kulitiri. Usianya baru belasan, namun sudah dipaksa memahami kerasnya dunia. Ia ingin memiliki kebun, seperti ayahnya, seperti kakeknya, agar kelak ia bisa menikah dan membangun keluarga. Sebab di tanah pegunungan, kebun adalah warisan yang harus diperjuangkan. Tapi nasib berkata lain.

Di tahun yang sama, datanglah titah dari sang penguasa besar. "Semua orang harus menanam jati!" serunya lantang. "Barang siapa menolak, ia akan dianggap setan merah. Barang siapa patuh, ia adalah bagian dari penguasa besar."

Kulitiri menoleh ke ayahnya dengan kebingungan. "Ama, apa itu setan merah?"

"Mereka yang melawan perintah," jawab ayahnya lirih. Suaranya serak, seperti menahan kepedihan yang tak mampu diucapkan.

Tak ada pilihan. Semua tunduk. Siang dan malam mereka bekerja, menanam jati di tanah yang seharusnya ditumbuhi padi dan jagung. Ladang-ladang yang dahulu menjadi sumber kehidupan, kini ditebang, dibongkar, digantikan oleh pohon-pohon jati yang tak memberi mereka makan. Hujan turun bersama air mata, dan kelaparan menjadi sahabat yang tak diundang.

Nasib mereka terinjak di bawah roda kekuasaan. Air mata bercampur dengan keringat, hidup mereka di batas antara harapan dan kehancuran. Mereka dipaksa menanam untuk sesuatu yang tidak mereka pilih, sesuatu yang tidak pernah mereka harapkan.

Kulitiri, bocah yang baru beranjak dewasa, dipaksa menanggung beban yang terlalu berat. Kebun yang seharusnya menjadi masa depannya dihancurkan, digantikan oleh ketakutan dan kepatuhan buta. Orang-orang yang dulu hidup damai, kini terperangkap dalam kehendak penguasa yang tak mengenal belas kasihan.

Itulah kisah tentang Kulitiri, anak yang harus hidup dengan takdir yang dipaksakan kepadanya, di zaman yang belum mengenal angka seribu. Zaman yang terlalu jauh dari kebahagiaan yang dulu mereka impikan.

"Pon, apakah cerita ini benar-benar terjadi?" tanyaku, suara lirih mengiringi derasnya sungai.

"Entahlah," jawab La Ponja. Suaranya tenggelam dalam gemericik air yang mengalir di bawah mereka.

Aku menarik napas panjang. "Jika cerita ini benar adanya, sungguh malang nasib mereka. Mereka diadu seperti dadu dalam kaleng perjudian."

"Ya," sahut La Ponja. "Begitulah."

Langit mulai gelap. Cahaya redup perlahan menghilang di balik cakrawala, seakan ikut meratapi nasib yang baru saja diceritakan. Kami berjalan menuju sungai, membiarkan air jernih membasuh tubuh, seolah ingin menghapus kenangan pahit yang baru saja diungkapkan. Di sana, di tengah aliran yang tenang, sesaat kami menemukan kelegaan sebelum gelap sepenuhnya menelan dunia.

Posting Komentar untuk "Cerita Sore di Pinggir Sungai"