Cerita dari Meja 04
Hari mulai jatuh, cahaya senja yang kemerahan menembus kaca jendela warung kopi. Orang-orang mulai sibuk mengeluarkan kamera untuk memotret senja. Wajar saja, karena selain menyajikan minuman, warung kopi ini juga menawarkan pemandangan pantai yang indah. Kebanyakan orang datang sekadar merenungi senja hingga ke dalam cakrawala. Ya, merenungi senja hingga ke dalam cakrawala.
Di depan sana, pasir pantai telah diinjak oleh kaki-kaki yang bersemangat memotret senja. Kadang aku berpikir, jika senja bisa berbicara, mungkin ia akan berkata, “Aku ini bukan objek untuk terus disanjungi. Kalau saja manusia tahu, aku ini senja dan aku punya perasaan malu untuk dipandangi terus menerus, apalagi sampai difoto segala. Aduh, sungguh, manusia hanya menginginkan kebahagiaannya saja tanpa pernah memikirkan kebahagiaan ciptaan lain.”
Tuuttt... tuutt... suara getaran handphone seseorang menghentikan lamunanku. Aku menyeruput kopi sambil memandang ke arah orang itu. Seorang wanita, mengenakan kacamata bundar yang serasi dengan hidung mancungnya. Suaranya pelan sehingga aku tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang ia katakan. Sesaat kemudian, ia menaruh kembali handphone-nya, wajahnya terlihat kesal, bibirnya cemberut.
Aku mengangkat gelas kopiku, menenteng tas laptop, dan beranjak menuju area terbuka warung kopi ini. Area terbuka ini selalu mampu memberikan kenyamanan. Aku mulai membuka laptop, memandangi monitor, membuka word, dan mulai mengetik. Tapi aku bingung, apa yang harus kutulis? Ah, isi kepalaku tidak lebih dari halaman kosong di monitor. Sambil berpikir, sambil memandangi sekitar, aku terus mencari ide. Namun tetap saja, kepalaku kosong.
Termangu, semuanya terasa hampa. Bahkan matahari yang telah merias piringan langit dengan cahaya kemerahannya membuatku tak bisa berpikir tentang apa pun. Hingga suatu ketika, suara wanita itu mengejutkanku.
“Hei,” sapanya sambil menyentuh pundakku. Aku membalas dengan senyuman.
“Kenapa kakak terlihat gelisah sekali, lalu tiba-tiba terdiam?”
“Oh, aku lagi bingung mau mikirin apa.”
“Emang apa yang ingin kakak pikirkan?”
“Aku juga nggak tahu. Kan aku bilang, aku lagi bingung.”
Keajaiban warung kopi ini adalah seseorang bisa dengan mudah menegur siapapun. Sepertinya, wanita ini adalah yang tadi menaruh handphone dengan wajah kesal di ruangan tadi.
Dia tertawa.
“Kakak suka tempat ini?”
“Ya, aku suka tempat ini. Kalau kamu sendiri, bagaimana?”
“Aku juga suka.”
“Kenapa bisa suka tempat ini?”
Dia menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan.
“Dulu, tempat yang kakak duduki sekarang adalah tempat aku dan kekasihku pertama kali bertemu. Kekasihku saat itu sedang menulis puisi di sini, di meja ini, meja nomor 04. Aku bertemu dengannya karena ada tugas kuliah. Temanku bilang kalau dia punya teman yang bisa menulis puisi. Kebetulan, tugasku berhubungan dengan itu, jadi aku bertemu dengannya di sini. Dia menulis puisi dengan penuh ketenangan. Kadang, dia melirik ke arahku, melebarkan senyum, dan kembali serius dengan puisinya.”
“Waow, romantis banget.”
Dia tertawa. Aku tahu, wanita ini datang hanya untuk curhat.
“Ya, hari itu seperti hari dalam dongeng. Semua terjadi seperti keajaiban. Jatuh dan bangun. Jatuh cinta dan bangun cinta. Hari itu, aku jatuh cinta padanya. Entah kenapa? Kadang aku bingung, kok bisa aku jatuh cinta padanya? Padahal kami baru pertama kali bertemu. Jatuh cinta yang kurasakan saat itu membuatku merasa seperti anak kecil. Apa mungkin orang yang jatuh cinta bisa seperti anak kecil? Ah, aku malu kalau memikirkan hari itu.”
“Lalu, bagaimana dengan cinta yang tumbuh?”
“Hahaha, setelah pertemuan itu, aku dan kekasihku sering chat, dia mengirimi aku puisi. Kadang, kalau bertemu, aku memintanya membacakanku puisi. Sederhana memang, tapi begitulah cara kami membangun cinta. Kami juga sering naik gunung bersama.”
“Wah, asik ya?”
“Tapi kak, maaf kalau aku banyak bicara.”
“Tidak masalah, aku suka mendengar cerita orang lain.”
“Eh, ngomong-ngomong, nama kakak siapa?”
“Fiktif. Kamu?”
“Abstrak.”
“Wah, nama kita sama-sama mengisyaratkan hal yang tabu.”
Kami tertawa. Ia memang begitu manis. Matanya terlihat tajam, tetapi jika dilihat dari samping, tampak sendu.
“Kakak orang pertama yang bilang begitu.”
“Emang kekasihmu nggak pernah bilang gitu?”
Dia menundukkan kepala, wajahnya murung, matanya mulai berkaca-kaca. Dia kembali menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
“Hey, Abstrak, maafkan aku jika perkataanku tadi mengganggumu.”
“Tidak masalah, kak. Memang siklus dari semua yang kita rasakan selalu jatuh dan bangun. Kita bisa saja jatuh dalam kebahagiaan dan membangun kebahagiaan. Kita bisa saja jatuh dalam kesedihan dan membangun kesedihan. Tapi jika beruntung, kita bisa jatuh dalam kesedihan dan membangun lagi kebahagiaan.”
“Lalu dari ketiga hal itu, kamu jatuh dalam lubang yang mana?”
“Jatuh pada hal kedua, jatuh dalam kesedihan dan membangun kesedihan.”
“Kenapa bisa? Sejauh yang aku tahu, semua orang berhak bahagia.”
“Ya, semua orang berhak bahagia, namun kita juga tidak boleh lupa bahwa kita berhak merasakan kesengsaraan. Ketahuilah bahwa bahagia dan sengsara itu hanya beda tipis.”
Dia membuka kacamatanya, mengambil tisu, dan mengusap matanya yang mulai berkaca-kaca.
“Apa yang membuatmu bisa berkata seperti itu?”
“Kekasihku mengalami kecelakaan,” air matanya jatuh, “dokter memfonisnya menderita amnesia. Ia tidak ingat apa pun, kecuali tempat ini. Itu sebabnya aku sering datang ke sini, berharap dia bisa mengingatku kembali,” lanjutnya, isak tangisnya semakin terdengar.
Suasana menjadi semakin haru. Air matanya terus jatuh, dan aku ingin sekali menyeka air matanya, tapi aku bukan siapa-siapa. Kami baru saling mengenal, dan kehadirannya hanya untuk curhat.
“Kak, ingin tahu sesuatu?” katanya, terisak.
“Boleh.”
“Ada satu hal yang paling menyakitkan dalam suatu kisah percintaan. Kalau orang lain bilang, putus itu biasa, tapi bagaimana jika orang berpisah tanpa kata putus? Tanpa meninggalkan begitu saja, tapi kalian bertemu setiap hari, kamu mengenalnya, dan dia tidak mengenalmu? Apakah itu bukan hal yang paling menyakitkan? Dan tanpa sengaja, dia melihatmu sejenak, bingung, sementara kamu terus-menerus memikirkan kisah yang belum selesai. Kisah asmara yang tak pernah ditakdirkan untuk berpisah, yang memaksa kita untuk sabar menjalani hari hanya dengan sebelah sayap yang patah.”
Perkataan itu terhenti oleh isaknya yang semakin keras. “Aku tidak sanggup menahan rasa sakit ini, karena semakin lama perasaan ini semakin dalam. Berani jatuh cinta berarti berani menghancurkan diri sendiri,” lanjutnya.
Ia menangis tersedu-sedu. Aku merasakan air matanya jatuh di leherku. Ingin sekali aku menghiburnya, tapi aku bukan siapa-siapa. Lelaki harus pandai menyembunyikan air matanya. Bagi saya, air mata adalah harga diri. Suatu saat nanti, hanya di hadapan orang tua dan istriku aku akan menangis.
“Kak, bolehkah aku memelukmu?”
Aku tertunduk, tak tahu harus menjawab apa.
Tiba-tiba, dia sudah memelukku. Menangis di pundakku. Aku tertunduk, bertanya-tanya tentang apa sebenarnya cinta itu. Kenapa seseorang mau menyiksa dirinya dengan cinta? Wanita ini telah berjuang untuk mengembalikan ingatan kekasihnya. Setiap langkahnya, harapannya agar kekasihnya bisa sembuh dan mengingatnya kembali. Betapa malangnya mereka yang menempuh jalan cinta.
“Kak,” ia memanggil dalam isak tangisnya, “Masih bisakah aku memelukmu lagi?”
“Tapi aku bukan siapa-siapamu.”
“Tidak masalah.”
“Bagaimana dengan kekasihmu, jika dia ada di sini dan tiba-tiba mengingatmu, melihatmu sedang memeluk orang lain?”
“Tidak masalah.”
Aku merasakan air matanya jatuh menyentuh leherku. Aku melepaskan pelukannya dan membersihkan air mata yang membasahi wajahnya. Ia berhenti menangis, menatapku. Kulihat ada sesuatu yang lain dalam matanya.
“Kalau boleh tahu, siapa nama kekasihmu, Abstrak?”
Air matanya kembali jatuh. Bibirnya gemetar. Ia tidak mampu menyebutkan nama kekasihnya. Mungkin nama itu terlalu menusuk untuk disebutkan. Kepalanya menunduk di pundakku, kembali terdengar isak tangisnya.
“Fiktif,” bisiknya.
“Iya?”
“Fiktif, itulah nama kekasihku.” Dia menguatkan pelukannya, isaknya semakin dalam. “Kamulah orangnya, Fiktif.”
Aku terkejut dan tidak percaya.
“Fiktif, cobalah ingat aku kembali. Selami lebih dalam ingatanmu. Aku adalah Abstrak, Fiktif. Aku adalah kekasihmu dan kamu adalah kekasihku. Kecelakaan itu telah membuatmu mengidap amnesia. Meja nomor 04 ini adalah tempatmu menulis puisi pertama untukku. Meja ini, Fiktif. Juga puisi ini, Fiktif. Semua cerita ini, Fiktif. Cobalah untuk mengingatnya, Fiktif.”

Posting Komentar untuk "Cerita dari Meja 04"
Posting Komentar